Memantik Batik

Memantik Batik

1 Shares
1
0
0
0


Kawan Wastra, masih ingat penemuan fosil manusia purba oleh Eugene Dubois di Trinil, Kabupaten Ngawi? Tidak hanya menjadi sebuah kontribusi yang sangat penting dalam dunia ilmu pengetahuan, penemuan ini juga menjadi salah satu inspirasi pembuatan motif batik khas Ngawi, lo.

Memang bukan batik namanya kalau setiap lembarannya tidak mengandung nilai budaya, tradisi, atau sejarah setempat. Kalau sempat mengetik kata kunci “batik khas Ngawi” di mesin pencari, selain motif fosil atau manusia purba, pasti Kawan Wastra akan menemukan gambar-gambar yang didominasi oleh motif bambu, jati, dan padi. Ya, motif-motif tersebut terinspirasi dari hasil alam Ngawi sendiri.

Namun serat-serat kain yang sarat makna pun tidak akan serta merta laris di pasaran tanpa ada usaha dan upaya di baliknya. Yohanes Wahyu Triatmaja (29), Direktur Widi Nugraha Batik, dalam perbincangannya dengan tim Wastra Raya menyebutkan bahwa usaha batik masih sering dipandang sebagai lahan yang tidak relevan dengan orang muda. “Stereotipnya, batik itu isinya orang-orang tua yang nyanting dan dijual begitu saja. Nggak ada manajemennya,” kata pria yang biasa disapa Yohan itu.

Padahal akhir-akhir ini lembaran kain yang bercerita tentang budaya sering diangkat menjadi tema produk fashion di berbagai negara. Khususnya yang tujuannya untuk mendukung perajin lokal serta melestarikan tradisi dan kearifan setempat. Di India, para perancang dan perajin kain etnik lokal berani memulai startup untuk memasarkan produknya berbekal visi “Vocal for Local” yang digaungkan oleh pemerintah setempat. Sementara itu, Kawan Wastra juga bisa mengikuti liputan dari Vogue November ini yang menyorot karya dan perjalanan lima perancang yang berbasis di Accra, Ghana. Para perancang tersebut menggunakan kain tradisional khas Ghana dengan motif yang mewakili kisah kehidupan masyarakat di sana.

Dengan teralihnya perhatian dunia pada produk-produk yang memiliki makna khusus, batik tentu saja menjadi semakin relevan. Siaran Pers Kementerian Perindustrian RI pada Oktober 2019 mencatat industri batik telah mencapai 47.000 unit usaha dan menyerap lebih dari 200.000 tenaga kerja. Menurut data ini, batik merupakan salah satu industri padat karya yang turut berperan dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam praktiknya, bisnis batik perlu dikelola dengan serius. Keberlangsungannya juga harus mengikuti perkembangan informasi dan teknologi. Widi Nugraha Batik, sebuah UKM di Ngawi yang telah dirintis sejak tahun 2010 bahkan telah menyiapkan strategi untuk terjun ke era digital 4.0.

Yohan menerangkan bahwa Widi Nugraha Batik secara khusus mengumpulkan sekitar tujuh orang yang usianya di bawah 25 tahun untuk bergabung di dalam tim yang tugasnya mengerjakan konten di TikTok, Instagram, Facebook, bahkan Youtube. “Kami belajar bagaimana menjadi star seller di Shopee, bagaimana beriklan di Facebook dan Instagram, serta memanfaatkan Google Maps rating untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Ngawi.” Tidak sekadar membuat konten, tim yang menangani media sosial juga harus membaca buku-buku tentang marketing. “Cara iklan kita pakai NLP, neuro-linguistic program. Cara caption kita pakai bahasa-bahasa yang memengaruhi pikiran alam bawah sadar,” tambah Yohan.

Baca Juga:  5 Fakta Menarik tentang Batik Cirebon, Sudah Tahu?

Strategi lain yang ditempuh oleh Widi Nugraha Batik untuk mengembangkan pasarnya adalah dengan bekerja sama dengan pihak lain, dari organisasi budaya, sosial, kemasyarakatan, hingga instansi pemerintahan. Kampanye partai politik serta pasangan calon bupati juga menjadi salah satu jalur untuk memperkenalkan produk batik Widi Nugraha. “Karena siapapun yang ingin merengkuh hatinya warga Ngawi, artinya dia harus memahami dan harus merebut hati menggunakan identitas Ngawi,” ungkap Yohan.


Diakui Yohan bahwa memang saat ini merupakan zamannya kolaborasi. Bisnis batik tidak bisa berdiri sendiri jika hanya bertumpu pada produksi dan penjualan. Menurutnya, semuanya saling terkait. Pembuatan dan penjualan batik juga berhubungan erat dengan memasyarakatkan batik, baik melalui edukasi, persuasi, maupun dengan memberi dukungan pada pihak lain.

Pandemi Covid-19 tentu saja merupakan salah satu tantangan untuk kelangsungan hidup usaha batik. Widi Nugraha Batik mengalami penurunan omzet sebesar 50% selama masa pandemi. Budi Siwi, pemilik Widi Nugraha mengungkapkan bahwa angka penjualan yang sebelumnya bisa sampai Rp 100 juta per bulan, kini hanya mencapai Rp 50 juta sampai Rp 30 juta per bulan, seperti dilansir jatimtimes.com pada 2 Oktober 2020 lalu. Kondisi seperti ini membuat strategi pemasaran menjadi semakin vital peranannya. Langkah-langkah promosi dengan memanfaatkan media sosial semakin gencar dilakukan. Meskipun begitu, Yohan, yang juga adalah Ketua Himpunan Pengusaha Muda di Ngawi mengatakan bahwa dirinya dan pengusaha lain melihat kalau masyarakat sebenarnya tidak banyak berubah selama pandemi. “Behavior-nya berubah tapi desire-nya nggak berubah,” ujarnya. Orang-orang ingin kembali bertamasya, kembali kondangan, dan terutama kembali berbelanja.

Cukup mengejutkan memang bahwa pada tahun ini, di masa pandemi, nilai ekspor batik justru meningkat, Kawan Wastra. Menurut Badan Pusat Statistik, ekspor batik periode Januari-Juli 2020 mencapai $21,54 juta. Sementara pada periode yang sama tahun lalu, nilainya $17,99 juta. Dengan kabar baik ini, Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa upaya untuk membuka pasar-pasar baru di kancah internasional akan terus dilakukan.

Peluang tentu masih terus terbuka untuk memasarkan batik asli Indonesia. Yohan, sebagai pelaku usaha batik pun berpesan kepada masyarakat Indonesia, khususnya anak muda agar terus mencintai dan membanggakan produk lokal. “Cintailah, seolah-olah kita akan kehilangan,” tegasnya.

1 Shares
You May Also Like
Tenun Ikat berwarna orange

Apa itu Wastra?

Wastra, wastra, wastra. Mungkin kita sering mendengar kata ‘wastra’. Mungkin kita sering datang ke acara-acara bertema wastra. Mungkin…