Ketika Cinta, Alam, dan Budaya Bersatu dalam Helai Wastra

7 Shares
7
0
0
0

“Konsep alam dan budaya ini maksudnya adalah yang dekat dengan kehidupan kami. Yang sedang kami geluti. Yang mencerminkan kami banget. Nggak dibuat-buat agar kelihatan unik. Kalau dibuat-buat supaya sesuai budget, itu baru betul. Hehehe..” – Hiyashinta Klise

Jawaban Shinta, panggilan akrab dari Hiyashinta Klise atas pertanyaan mengenai konsep hari pernikahannya dengan suami ini kedengaran begitu menarik. Bagaimana tidak? Di tengah maraknya prewedding dan wedding photography dengan tema tradisi Indonesia yang biasanya dibuat untuk mengikuti tren, Shinta dan suaminya, Aji Tri Atmojo, dengan sadar memutuskan konsep alam dan budaya karena mereka memang menjalankan kedua hal ini secara militan. Shinta adalah perempuan keturunan Tanimbar yang sedang melakukan upaya pelestarian tenun Tanimbar dengan mendirikan Yayasan Lamerenan. Sedangkan Aji aktif di Summitnicus, sebuah komunitas pendaki, pecinta alam dan budaya Indonesia. Keduanya juga kerap membagikan gaya hidup yang ramah lingkungan melalui akun media sosial mereka. Untuk itu, Wastra Raya mengajak Kawan Wastra semua untuk menyimak kisah wastra yang mereka kenakan pada hari spesial mereka. Yuk, kita ikuti cerita unik mereka!

Halo, Shinta! Bagaimana kabarnya? Sedang sibuk apa saja kalau boleh tahu?

Hai, Wastra Raya. Kabar baik. Mengurus batita dan Lamerenan saja. Saat ini Lamerenan sedang fokus produksi home décor dan T-shirt. Lalu mulai belajar tenun lagi. Tahun lalu sudah belajar, sekarang mau ulangi lagi belajarnya. Semesta tiba-tiba mempertemukan saya dengan guru tenunnya. Ternyata ada seorang penenun Tanimbar di Bekasi, sekota dengan saya!

Wah, seru sekali. Ngomong-ngomong, saya ikuti beberapa unggahan hari pernikahan kamu dan Aji yang unik di media sosial. Bisa dijelaskan tidak? Kenapa kalian pakai wastra, terutama kaitannya dengan konsep pernikahan kalian?

Alasan pakai wastra adalah karena konsep kami itu alam dan budaya. Jadi wastra otomatis ada sebagai simbol budaya tersebut. Konsep alam dan budaya ini maksudnya adalah yang dekat dengan kehidupan kami. Yang sedang kami geluti. Yang mencerminkan kami banget. Nggak dibuat-buat agar kelihatan unik. Kalau dibuat-buat biar sesuai budget, itu baru betul. Hehehe…

Suamiku suka naik gunung, berkegiatan di alam. Dia sering camping bersama teman-temannya. Boleh dibilang itu dunianya. Sejak awal dia ingin kalau menikah bisa mengadakan resepsi dengan berkemah bersama keluarga dan teman.

Nah, kalau saya sendiri ingin pernikahan secara adat Tanimbar karena selain papa saya orang Tanimbar, saya juga sedang melakukan upaya pelestarian tenun Tanimbar. Saya harus mempelajari berbagai tradisi Tanimbar yang pastinya melibatkan tenun ikatnya. Lalu kebetulan mau nikah. Pas! Saya mau pelajari tradisinya dengan mengalaminya langsung. Sekalian kan, mempromosikannya ke tamu-tamu! Jadi, semakin banyak yang datang, semakin baik. Hahaha. Oh ya, kami juga tidak mau menghilangkan tradisi Jawa yang juga mengalir di darah kami. Suamiku orang Wonogiri, sementara mamaku orang Kebumen.

Menarik, ya! Selain soal kecintaan pada alam, ini adalah peleburan dua tradisi keluarga. Nah, saya jadi ingin bertanya. Bagaimana kalian berdua memasukkan wastra sebagai perayaan istimewa ini? Yang mana sesuai tradisi dan yang mana merupakan modifikasi? Bisa dijelaskan?

Untuk acara lamaran, resepsi, dan unduh mantu wastra yang dikenakan masih sesuai tradisi. Untuk pemberkatan, saya memodifikasinya.

Ah, mungkin bisa dijelaskan satu per satu? Dari lamaran dulu, deh!

Baik.  Saat prosesi Masuk Minta, sebutan orang Tanimbar untuk lamaran, suami saya dan keluarganya tetap datang dengan pakaian adat Jawa, sementara pihak perempuan menyambutnya dengan pakaian adat Tanimbar. Tata cara dan mas kawinnya sesuai adat Tanimbar. Tapi, pihak laki-laki tetap membawa juru bicara dari Jawa, lengkap dengan tembangnya untuk menyampaikan maksud meminangku.  

Nah, kemudian pihak perempuan menjawabnya dengan foruk, semacam tembang yang dilantunkan dalam bahasa Tanimbar. Keluarga dari Jawa juga wajib minum sopi, semacam arak. Seru deh! Tapi saya tidak melihatnya! Kenapa? Karena saya di dalam kamar menunggu dijemput calon mempelai pria setelah tawar menawar disepakati. Bagaikan sebuah semangka yang menunggu dipetik. Kok semangka? Syair dalam Foruk menyebut demikian. Mungkin karena di Tanimbar itu panas jadi buah semangka dekat dengan kebutuhan mereka ya.. Hahaha. Sesuai konteks kepulauan.

Lalu, setelah pihak laki-laki menyerahkan syarat-syarat meminang, pihak perempuan wajib menyerahkan kain tenun sebagai balasan. Di sinilah tenun sangat berperan dalam pernikahan adat Tanimbar.

O, begitu. Nah, apakah ada penjelasan soal kain yang kamu pakai saat acara Minta Masuk itu?

Ini cerita soal bagaimana saya mendapatkan kainnya. Saya harus menyebrang pulau dengan speed boat di tengah angin kencang dan menginap dua malam di Desa Kandar. Saat itu sinyal HP di sana jelek dan listrik juga mati. Niat sekali. Saya mencari kain yang masih menggunakan benang kapas pintal tangan dan pewarna alam. Ini sudah hampir punah di Tanimbar. Saya menemukannya masih dalam proses pembuatan, belum jadi 100 persen. Harusnya ditambah kulit kerang sebagai hiasan. Tapi karena saya harus pulang, saya beli saja. Jadi, kain ini saya maknai sebagai masih adanya harapan penenun tanimbar akan kembali menenun dengan kapas pintal tangan dan pewarna alam.

Luar biasa. Selalu masih ada harapan. Nah, kalau untuk prosesi lainnya, bagaimana? Setelah lamaran, kemudian upacara apa?

Sakramen pernikahan. Kain merah yang saya jadikan bawahan saat pemberkatan ditenun sendiri oleh kakak sepupuku, khusus untukku. Namanya Tais Matan. Ini adalah sarung khas Pulau Yamdena, Tanimbar. Warna merah maroon merupakan warna khasnya, selain hitam. Kami sebut ini merah darah babi.

Tais artinya kain, sedangkan matan berarti mata. Jadi pola kain yang motif utamanya hanya ada di kedua ujung kain, seperti mata. Sedangkan tengahnya hanya garis-garis. Garis-garis di tengah ini yang saya minta ke kakak agar dibuat tidak terlalu rapat seperti biasanya. Lalu perpaduan warna lain yang mengapit motif juga kami desain bersama. Tais Matan biasa dipakai untuk acara-acara adat apapun. Untuk motifnya, justru tidak ada makna khusus buat saya karena kakak saya sendiri tidak tahu itu motif apa. Dia hanya mengikuti motif-motif lama yang pernah dia lihat. Ini yang jadi keprihatinan saya sebenarnya. Banyak penenun muda yang sudah tidak tahu filosofi motif-motif warisan leluhurnya.

Turut prihatin, Shinta. Di sini kita jadi tahu urgensi pendokumentasian kain tradisi secara lebih serius. Semoga banyak pihak bisa segera melakukan riset dan publikasinya, ya. Nah, kalau untuk resepsi bagaimana, Shinta? Kain-kainnya apa saja?

Baca Juga:  Mengintip Pasar Batik 17 Agustus Pamekasan

Sebenarnya ada satu kain tua yang saya suka di Desa Marantutul. Namun saat bermaksud untuk membelinya, nenek penenun kain itu berkata bahwa kain itu tidak dijual karena dia mau pakai saat dia meninggal. Ah, saya meminta maaf dan semakin menyadari betapa berharganya sebuah kain tenun.

Kenapa dengan Desa Marantutul?

Pertama, desa itu adalah desa asal leluhur saya. Nenek tersebut masih keluarga dekat. Memiliki kainnya itu seperti aku memakai kain nenekku sendiri. Kedua, motifnya adalah bulan sindak atau bulan sabit. Motif ini melambangkan fenomena alam yang indah, sesuai dengan perhiasan perempuan Tanimbar di dahinya ketika akan menikah. Sesuai dengan mas kawinnya juga. Tapi kan akhirnya tidak bisa pakai kain ini. Lalu akhirnya, tiba-tiba aja ada penenun yang datang ke rumah keluargaku dan menawari kain tuanya. Itulah yang akhirnya saya pakai saat resepsi, warna biru. Ditenun dengan kapas pintal tangan dengan pewarna alam.

Cantik sekali, Shinta. Saya suka sekali dengan warna birunya. Lalu, untuk wastra yang dipakai oleh suami?

Untuk pengantin pria, yang sekarang umum dipakai adalah jas tenun dengan hiasan kepala tenun dan burung Cendrawasih. Saya tidak terlalu suka dengan jas karena seperti setengah-setengah pakaian adatnya. Jadi saya ingin lebih tradisional lagi dengan pakaian seperti tua-tua adat. Ini saja sudah agak dimodifikasi dengan atasan satin hitam, dulunya  bertelanjang dada dan pakai cawat. Oh ya, selendang biru yang dipakai pengantin pria ditenun oleh (alm) nenek saya.  Lalu kalungnya dibuat oleh paman saya. Itu dari kerang. Dilengkapi dengan ikat kepala dan burung Cendrawasih.

Nah, itu kan yang kental dengan adat Tanimbarnya. Dilakukan di kaki Gunung Salak, Cidahu, Sukabumi, supaya nuansa alamnya sangat terasa. Lalu bagaimana dengan Unduh Mantu?

Memang setelah menikah, kami menjalani juga tradisi Unduh Mantu di Wonogiri. Di sini, keluarga Tanimbar yang bergantian didandani dengan pakaian adat Jawa. Menandakan penerimaan dan penyatuan dua keluarga juga.  Untuk kebaya Unduh Mantu, saya pakai kebaya milik Mbah Putri, nenek dari mama saya. Beliau meninggal saat saya di Tanimbar mengurus pernikahan. Karena sedih sekali tidak bisa ikut pemakamannya, saya ingin mengenakan kebayanya di hari istimewa saya.

Jadi, selain menggambarkan identitas budaya, kain-kain yang kalian pakai ini juga menandakan perjalanan kalian, ya. Shinta, terima kasih banyak sudah berbagi. Wastra Raya yakin ini akan menginspirasi banyak Kawan Wastra di luar sana. Oh ya, sebagai penutup, apakah Shinta bisa membagikan tips untuk pembaca yang sedang mempersiapkan acara pernikahan berbau-bau tradisional?

Untuk semuanya, pertama, wastra yang kita pilih bisa membuat pernikahan kita jadi unik. Konsep bisa sama. Misalnya, sama-sama pernikahan adat Jawa, tapi kita bisa memilih kain yang berbeda selama masih masuk pakem tradisinya. Pilihlah wastra yang punya makna khusus buat pasangan yang akan menikah. Atau bisa juga wastra yang mencerminkan perjalanan hidup calon pengantin. Ini akan otomatis unik karena setiap pribadi itu juga unik dan setiap cerita perjalanan itu berbeda.

Kedua, pernikahan tradisional kalau diurus sendiri juga bisa tidak mahal. Memang biasanya terlihat banyak tahapannya. Tapi setiap tahapan bisa dilakukan secara sederhana. Saat itu kami menjalani yang penting-penting saja, yang esensial.

Serunya waktu itu kami dibantu teman-teman sebagai panitia. Camping ground tempat menikah juga milik kerabat. Dekorasi menggunakan barang-barang bekas. Alam sudah menyediakan semuanya. Wastra yang kami pakai tidak semua baru. Apalagi yang dipakai suami saya di acara resepsi, itu pinjaman dari paman saya. Makananpun beberapa kami siapkan secara tradisional. Tidak ada wedding cake. Sebagai penggantinya, kami ada “bakar batu”, yaitu cara memasak dengan batu yg sudah menjadi bara di dalam tanah. Jadi, yang dimasak adalah singkong dan ubi. Snack lain adalah makanan-makanan kecil dari Wonogiri. Waktu acara Unduh Mantu, kita juga gelar di rumah tua keluarga suami. Tidak perlu menyewa gedung, malah sangat instagramable. Hehehe…

Ketiga, jika mau pernikahan kita unik dan berkesan, kita harus kenali diri sendiri lebih dalam. Apa akar budaya kita. Mungkin juga sedikit keras kepala. Jangan pasrah-pasrah saja pada EO atau keluarga besar. Hehehe… Kita akan berhasil bila mampu mengkomunikasikan segalanya dengan baik. Kalau dalam kasus kami, yang agak ditentang itu adalah resepsi di kaki gunung. Bapakku bilang, “Aneh-aneh aja!” Tapi karena saya menekankan bahwa justru dengan di sana kami bisa bikin “bakar batu” dan bisa joget sampai pagi, seperti umumnya pesta orang Tanimbar, akhirnya bapak saya setuju. Dia malah seneng banget. Harus tahu cari jalan tengah sama keluarga.

Tips lain? Harus nabung dan pakai uang sendiri. Jadi bebas!

Baik, Shinta! Semoga yang akan menikah dan membaca artikel ini sudah mencatat hal-hal pentingnya. Sekali lagi, terima kasih!

7 Shares
You May Also Like
Tenun Ikat berwarna orange

Apa itu Wastra?

Wastra, wastra, wastra. Mungkin kita sering mendengar kata ‘wastra’. Mungkin kita sering datang ke acara-acara bertema wastra. Mungkin…