Batik Cirebon: Sebuah Pengantar

1 Shares
1
0
0
0

Siapa yang tak mengenal Batik Mega Mendung? Siapa yang tak mengenal dari mana Mega Mendung berasal? Karena ketenarannya, wajar bila Cirebon sampai-sampai menggunakan motif Mega Mendung sebagai lambang kota. Namun, apakah batik Cirebon hanya Mega Mendung? Jawabannya tentu tidak. 

Keunikan yang ada pada batik-batik di Cirebon adalah adanya lima budaya yang memengaruhi corak dan ragam hias batik-batiknya. Cirebon terletak di pesisir Jawa sebelah utara. Sebagai kota perdagangan di pinggir pantai, Cirebon banyak disinggahi oleh kapal-kapal dari Laut Cina Selatan dan Samudera Hindia. Karena letaknya yang strategis ini, Cirebon juga efektif menjadi pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Maka tak heran bila ada lima budaya yang memengaruhi batik-batik Cirebon, yakni Cina, Eropa, Arab, Hindu dan Cirebon sendiri yang begitu kuat.

Keraton Kasepuhan Cirebon

Salah satu contoh adalah Batik Peksi Naga Liman atau Singa Barong. Singa barong diambil dari kata ‘barung’ yang berarti campuran, kombinasi, atau perpaduan. Maka peksi (burung), naga (liong) dan liman (gajah) dipadukan menjadi seekor makhluk khayal yang diabadikan menjadi motif batik. Ketiga hal tadi merepresentasikan bauran budaya Arab, Cina, dan Hindu. 

Contoh yang lain adalah ragam hias trisula atau payung. Trisula adalah tombak yang memiliki tiga ujung mata yang tajam. Sesuai dengan filosofi Hindu, ini menggambarkan tiga ketajaman, yakni ketajaman daya akal, daya perasaan, dan daya kekuatan. Sedangkan makna payung merupakan lambang kebesaran pada umumnya.

Baca Juga:  Wastra: Macam & Ragam

Batik khas Cirebon juga dipengaruhi oleh budaya Arab. Kita akan menjumpai pengaruh itu dalam batik Cirebon melalui ragam hias batik kaligrafi Arab, hiasan geometris Timur Tengah, dan ragam hias buraq. Buraq adalah kendaraan yang dipakai Nabi Muhammad SAW saat sedang miraj.

Contoh-contoh di atas telah dipaparkan untuk menyebutkan beberapa dari sekian banyak batik yang menjadi ciri khas Cirebon. Tentu masih ada banyak lagi yang bisa kita pelajari, seperti mengapa banyak ragam hias Cirebon juga merupakan gambaran keadaan geografis di sana. Kemudian kita juga bisa mencari jawaban atas mengapa motif Taman Arum Sunyaragi juga terkenal atau mengapa ada perbedaan ukuran ragam hias batik di keraton dan di luar tembok keraton. 

Jawaban-jawaban atas pertanyaan itu takkan bisa cukup diuraikan dalam tulisan ini. Selain dengan membaca banyak literatur yang membahas sejarah dan kain Cirebon, kita juga bisa mencoba mencari lebih banyak informasi dengan berwisata ke Cirebon. Mengunjungi situs-situs yang berhubungan dengan wastra Cirebon merupakan hal yang menarik, selain menikmati kuliner lokalnya tentunya. Jadi bagaimana, mulai tertarik ke Cirebon untuk mendalami batiknya?

Salam #WastraRaya untuk #IndonesiaRaya !

Daftar Pustaka

Djoemena, N. 1990. Ungkapan Sehelai Batik: Its Mystery and Meaning. Edisi kedua. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Kusrianto, A. 2013. Batik: Filosofi, Motif, dan Kegunaan. Yogyakarta: Penerbit Andi. Ramadhan, Iwet. 2013. Cerita Batik. Tangerang: Penerbit Literati.

1 Shares
You May Also Like
Tenun Ikat berwarna orange

Apa itu Wastra?

Wastra, wastra, wastra. Mungkin kita sering mendengar kata ‘wastra’. Mungkin kita sering datang ke acara-acara bertema wastra. Mungkin…