Main Kain: SMA Pangudi Luhur Van Lith

1 Shares
1
0
0
0

Inilah kisah Wasti dan wastra. Wasti yang begitu mencintai wastra ingin melestarikan dan memperkenalkannya pada masyarakat dari semua kalangan. Berbekal visi ini, ia berencana untuk berjualan kain batik, yang merupakan cinta pertamanya pada wastra. Tentu saja Wasti ingin menjual batik yang menurut idealismenya adalah yang otentik. Batik yang proses pembuatannya mengikuti pakem. Bukankah itu yang membuat batik berbeda dari kain pabrikan? Bukankah jiwanya wastra itu terletak pada pakemnya? 

Selanjutnya, untuk proses pembuatannya nanti, Wasti berkeras ingin menggunakan pewarna alami meskipun ada lebih banyak pilihan lain yang lebih murah dan lebih ringkas. Namun, Wasti adalah seorang muda yang idealis. Tidak hanya alasan keaslian yang dipikirkannya. Produksi batik yang tidak merusak lingkungan pun menjadi perhatian Wasti. 

Kemudian berhadapanlah Wasti dengan layar excel. Hitung, hitung, hitung. Alangkah mindernya ia melihat deretan angka yang harus dikeluarkannya untuk memproduksi batik yang sesuai dengan keinginannya. Jika modalnya saja sudah sebesar ini, berapa harga kain yang akan dijualnya nanti? Lalu, dengan harga setinggi itu, bukankah hanya orang-orang berduit banyak saja yang mampu membelinya? Bagaimana dengan kalangan masyarakat yang lain? Tapi idealnya, bukankah wastra untuk semua? Bukankah tujuan utamanya melakukan ini adalah agar wastra lestari dan dikenal masyarakat banyak? Apakah Wasti dan visinya tentang wastra dapat terwujud? 

Nah, Kawan Wastra, jika berada di posisi Wasti, langkah apa yang selanjutnya akan kawan-kawan lakukan? Atau solusi apa yang bisa Kawan Wastra berikan terkait masalah yang dihadapi Wasti tersebut? 

Wastra dan permasalahannya
Para peserta diajak berdiskusi tentang permasalahan wastra yang ada dan memberikan solusi sesuai dengan pembelajaran yang selama ini sudah mereka dapatkan di sekolah.

Permasalahan yang dikemukakan di atas merupakan salah satu tantangan wastra di zaman modern ini.  Kawan Wastra pun tentu sudah familiar dengan cerita-cerita semacam itu. Ini jugalah yang menjadi salah satu pembahasan kelas Main Kain yang dibawakan oleh Wastra Raya pada 11 Mei lalu. Diadakan secara daring dengan siswa-siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Van Lith, Magelang, Jawa Tengah, kelas Main Kain ini mengulik wastra, mulai dari definisinya, ragamnya, hingga permasalahan yang mengitarinya. 

Diajak berdiskusi tentang wastra, sekitar 138 peserta yang mengikuti sesi pada hari pertama ini dapat mengidentifikasi beberapa permasalahan lain yang masih menjadi tantangan pelestarian wastra. Hal-hal seperti perkembangan IPTEK, kuatnya pengaruh budaya luar serta kurangnya informasi dan pembelajaran budaya lokal menjadi beberapa faktor penghambat. Adapun menurut beberapa siswa, bidang wastra sering dianggap tidak keren jika ingin ditekuni sebagai profesi. Selain itu, tuntutan orang tua dalam memilih profesi untuk anaknya seringkali menjadi faktor yang membuat wastra bukan preferensi bagi orang-orang muda. 

Kelas yang merupakan bagian dari mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan ini mengajak kawan-kawan Main Kain tidak hanya untuk mengidentifikasi masalah seputar wastra namun juga berdiskusi untuk menemukan solusinya. Dalam usaha melestarikan wastra, perlu ada penyesuaian dengan perkembangan zaman, menurut beberapa siswa. Misalnya dengan kombinasi motif tradisional dengan motif modern atau dengan membuat konten-konten edukasi wastra yang menarik dan seru sehingga bisa dibagikan di media sosial, webinar, talkshow, dan media lainnya. 

Baca Juga:  Dari Hilmar Farid untuk Anak Muda Indonesia: Bincang Hari Batik

Solusi lain yang ditawarkan adalah dengan menaikkan gaji perajin. Seberapa besar pun cinta seorang perajin pada keseniannya, mereka tetap butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan? Kemudian ada pula beberapa peserta Main Kain yang berpendapat bahwa wastra akan terus berkembang jika ada lebih banyak kolaborasi dari para penggiatnya sehingga muncul inovasi-inovasi baru di bidang wastra.

Lalu, bagaimana dengan permasalahan seperti yang dihadapi Wasti di atas? Tidak hanya wastra di Indonesia saja yang masih dihadapkan pada persoalan ini. Industri sandang di seluruh dunia pun sedang mencari jawaban untuk produk yang sustainable dan ethical yang tetap bisa dijangkau oleh semua kalangan. 

Namun, menyangkut ketersediaan pewarna alami, kawan-kawan Main Kain menilai bahwa memang perlu untuk mengembangkan sendiri pewarna alami agar tersedia lebih murah dan lebih banyak bagi pembuatan wastra. Akan lebih baik jika perajin bekerja sama dengan petani yang dapat pengembangkan pewarna alami. Kalau pun terpaksa harus menggunakan pewarna buatan, menurut beberapa siswa, pengolahan limbahnya haruslah sangat diperhatikan. Misalnya dengan menerapkan mekanisme stabilisasi. 

Bagaimana, Kawan Wastra? Sependapat dengan beberapa solusi yang diajukan tersebut? Atau ada tambahan lain yang menurut kawan-kawan juga penting untuk dibahas? Yuk, silakan tulis opininya di kolom komentar! 

Wah, sampai di sini, terdengar sangat serius, ya, sesi Main Kain ini. Yang dibahas adalah studi kasus, masalah dan solusinya. Berat sekali! Tapi bentar, Kawan Wastra! Nama kelasnya saja Main Kain, sudah tentu ada main-mainnya, dong. Di sesi kedua yang diadakan masih secara daring pada 18 Mei lalu, masing-masing siswa menyiapkan kain yang ada di rumahnya. Kali ini tim Wastra Raya mendemonstrasikan kepada 200 peserta beberapa cara yang asyik, nyaman, tapi tetap gaya dengan wastra. Kawan-kawan yang ikut kelas pun dengan antusias mengikuti tutorial tersebut.  

Main Kain - Wastra Raya
Clarasia Kiky mendemonstrasikan cara memakai kain kepada Kawan Wastra SMA Pangudi Luhur Van Lith.

Jadi, intinya, kain yang selama ini bersemayam di lemari, bisa loh kawan-kawan ajak bermain-main sehari-hari. Main ke tempat yang berbeda. Main dengan bermacam-macam gaya. Tapi karena ini masih pandemi, ya, main sendiri di rumah juga boleh, kok. Tidak seperti perasaan, wastra bisa dimainin kapan saja. (KL)

1 Shares